Skip to main content

Posts

Spring in Tokyo : First Day

Persimpangan Jalan di Shiodome, Tokyo, Jepang PERJALANAN udara dari Indonesia ke Jepang atau dari Bandara Soekarno Hatta ke Narita Airport Tokyo memakan waktu 7 jam perjananan. Saya berangkat pukul 23.30 WIB dengan pesawat Garuda dan tidak lama setelah take off langsung tertidur. Dan terbangun pukul 4.00 subuh waktu Indonesia, tapi saya tidak tahu pasti sudah di mana, yang jelas karena perbedaan waktu di luar jendela sudah sangat terang, tidak seperti pukul 4.00 subuh waktu Indonesia. Jam tangan saya masih menunjukkan pukul 4.00, sengaja tidak saya ubah ke waktu Jepang. Perjalanan yang melelahkan, untung saja pesawat yang digunakan sangat besar dan dilengkapi dengan film-film yang menarik. Pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan juga sangat indah, meski dilihat dari ketinggian puluhan ribu kaki dari permukaan laut. Menjelang pagi, pramugari pesawat yang kebanyakan orang Jepang mulai menawarkan minuman dan menu sarapan, meski warga Jepang tapi mereka bisa berbahasa Indo...

Mengawasi Siaran Televisi Tak Mendidik

Oleh : Nur Akmal,  Beberapa waktu lalu di beranda Facebook penulis berseliweran postingan yang mengunggah foto mesra seorang artis dengan seragam SMP, foto tersebut diambil dari salah satu adegan sebuah sinetron yang mereka perankan yang tayang pada jam primetime. Dalam cerita tersebut ada unsur romansa antar dua pelajar SMP di malam hari dan masih dengan seragam sekolah. Adegan tersebut dinilai tak layak, sehingga banyak orang membagikan postingan tersebut dengan harapan agar ada teguran dari KPI sebagai otoritas penyiaran kepada stasiun televisi yang menayangkan sinetron tersebut. Di jaman media sosial ini memang punya power yang besar dalam menggerakkan massa untuk satu tujuan tertentu, dari mulai membantu orang lain yang kesusahaan, membantu pembangunan sekolah dan sarana publik lainnya, atau membully satu oknum tertentu, termasuk juga dalam menyebarkan ajakan untuk memboikot suatu kelompok dan sebagainya. Apa yang dilakukan orang yang pertama kali memposting foto-fo...

Peran Penting Komunikasi Orangtua dan Sekolah

Oleh : Nur Akmal S.Pd,  MEMASUKI tahun ajaran baru 2016 yang dimulai Senin 18 Juli 2016, Pemeritah melalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengkampanyekan Hari Pertama Sekolah. Kampanye tersebut mewajibkan orangtua untuk mengantarkan anaknya ke sekolah pada hari pertama sekolah. Imbauan tersebut tertuang dalam surat edaran No 4 Tahun 2016 Tentang Hari Pertama Sekolah yang beredar luas di media sosial baru-baru ini. Surat tersebut ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 11 Juli 2016. Surat edaran itu pula beredar cepat di media sosial. Beragam komentar pun dituai imbauan tersebut, mulai dari bentuk dukungan hingga hujatan yang entah bagaimana bisa terjadi. Tanpa tedeng aling-aling imbauan itu dituding mengada-ngada, tidak masuk akal dan sebagainya. Bahkan ada yang menuding Mendikbud membuat aturan yang tidak penting, lebih baik mengurusi masalah kesejahteraan guru, fasilitas pendidikan yang belum layak dan sebagainya. Tidak usah mengurusi antar-men...

Dua Ikon Jepang dalam Satu Menara

Menara setinggi 300 meter, menjadi landmark Kota Tokyo Jepang. Banyak wisatawan mengamati keseluruhan Kota Tokyo dari Tokyo Tower. Tokyo  Tower. Siapa yang tak kenal menara yang satu ini. Mendengar namanya saja sudah tergambar kemegahan Kota Tokyo, Jepang. Menara yang dibuka pada tahun 1958 ini memiliki berat 4000 ton, lebih ringan daripada menara Eiffel di Paris yang berbobot 7000 ton. Setiap orang yang berkunjung ke Tokyo pasti mencari-cari Tokyo Tower, walau untuk sekadar berfoto.  Keseluruhan tingginya mencapai 332,6 meter, menjulang tinggi ke atas dengan aksen warna oranye dan putih. Awalnya menara ini merupakan menara pemancar TV dan radio. Namun seiring berjalannya waktu dengan semakin banyaknya gedung tinggi di Tokyo, menara ini tidak lagi difungsikan sebagai pemancar, fungsi itu kemudian diambil oleh Tokyo Sky Tree yang lebih tinggi, yaitu sekitar 600 meter.  Meski pun pensiun dari fungsi utamanya, menara Tokyo ini tetap menjadi ikon negara Jepang dengan...

Odaiba, Sunset Romantis Hingga Gundam Raksasa

Salah satu objek populer di Odaiba Tokyo yang ramai dikunjungi wisatawan. Patung Gundam seukuran 1:1 dengan rancangan aslinya berdiri tepat di depan pintu masuk Tokyo Diver City. Oleh: Nur Akmal.  Berkunjung ke Negeri Sakura mungkin adalah mimpi sebagian besar orang di dunia. Tentu saja karena ada banyak sekali lokasi menarik untuk dikunjungi di negara yang memiliki sejarah yang kompleks itu. Salah satunya adalah Odaiba, Tokyo. Odaiba adalah pulau buatan terbesar di Teluk Tokyo. Lokasinya berada di sebelah timur Kota Tokyo. Untuk ke lokasi tersebut harus melewati "jembatan pelangi", jembatan gantung setinggi 789 meter.  Dalam perjalanan menuju Odaiba, sudah disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata, terutama saat melewati "jembatan pelangi" dengan melewati laut dan gedung-gedung pencakar langit yang ada di Tokyo, bahkan kita juga bisa melihat Tokyo Tower, landmark Kota Tokyo yang tersohor ke seluruh dunia itu.  Odaiba dulunya hanya sebuah pul...

Sekolah di Jepang Berperan Atur Nutrisi Siswa

Seorang siswi Sekolah Dasar Seinan Elementary School di Minato Tokyo mempersiapkan makan siang untuk temannya di sekolah Oleh: Nur Akmal. Sekolah -sekolah di Jepang khu­susnya pada jen­jang pendidikan dasar dan menengah pertama menye­dia­kan makan siang untuk siswa. Ma­kan siang di seko­lah ini bertujuan untuk mem­berikan pemahaman yang baik tentang makanan sehat dan kapasitas me­milih ma­kan­an yang sesuai dengan per­kembangan siswa. Kepala Sekolah Seinan Ele­mentary School, Minato, Tokyo, Yukiharu Seki, me­nga­takan program makan siang di se­kolah ini dimulai sejak Jepang me­ngalami ke­sulitan setelah masa perang, tujuan dari disediakannya ma­kan siang di sekolah awal­nya untuk menyediakan nut­risi pendukung bagi siswa. "Namun saat ini tujuannya berubah untuk memberikan kontribusi terhadap perkem­bangan kesehatan mental dan fisik siswa. Di Minato, demi memenuhi tujuan itu, seko­lah-sekolah menyedia­kan ma­kanan dengan nutrisi se­imbang, mempromosikan  Shokuiku  ...

Pertama Kali Naik Pesawat, Ini Tipsnya

BARANGKALI ada banyak orang di jagat internet ini yang bingung dan takut menghadapi penerbangan pertamanya, menghadapi perjalanan pertamanya dengan pesawat. Sebagian mungkin bertanya-tanya pada teman-temannya yang sudah biasa naik pesawat terbang, tapi sebagian lain mencoba mencari informasi di Internet. Saya juga dulu melakukan hal yang sama saat pertama kali berpergian dengan pesawat. Saya bingung dan takut setengah mati. Hehe, tapi terlalu gengsi untuk Tanya-tanya sama orang lain, jadi saya putuskan untuk mencari infonya di internet. Sayang, saya tidak mendapatkan informasi yang cukup detail tentang bagaimana caranya naik pesawat, apa yang harus saya lakukan di bandara sebelum terbang, dan lainnya. Saya mungkin tipe orang yang tidak bisa melakukannya begitu saja, saya tipe orang yang harus mempersiapkan diri dengan matang sebelum melakukan sesuatu. Karena itu saya mencari info sedetail mungkin sebelum mengadakan perjalanan udara pertama saya. Menyadari hal itu saya merasa pe...

Educated unemployment is a Serious Issue

A few days ago, to be exact on Thursday Sep. 9 2014, Kompas Daily published news regarding the number of unemployed in Indonesia. The news stated that there are more than 600.000 college graduates are unemployed or not working. Most of them or 420.000 people, are bachelor degree and the rest are diploma. Meanwhile Central Bureau of Statistics (BPS) by February 2014 stated that college graduates unemployed in Indonesia numbered 398.298 people or 4, 31 percent of total unemployed of 7.141.069 people. (Kompas, 30 September 2014) This number obviously is not small, it has must be considered, serious issue. Especially in less than three months to go we will head to ASEAN Economic Community 2015. Just less than 3 months. Considering that, unemployment issue in Indonesia certainly becomes very urgent. Of course we do not want our country crushed because of workforce competition eventually. We do not have any intention to be slaves in our own country, when in reality our human...

Medan is (not) a Smart City

Recently Kompas Daily, along with Bandung Institute of Technology corporate formulated Indonesian Smart City Index (IKCI) which was released on 24 March 2015 in order to assess and rate the level of maturity of cities. Since last March until August 2015, Eventually Kompas R&D (Litbang) along with ITB, declared the rating and gave award to Surabaya as Indonesia Smart City 2015 at once. There are 93 cities are included in the rating of the smart city, respectively grouped into three categories based on population. Those are Big City with more than 1 million people. And the second, medium city with more than 200,000 people and the third is small city with maximum population 200.000 people.   Each city assessed based on three main aspects, Economical, Social, and environment. The result of Indonesia Smart City Index is: Category of cities with more than 200.000 people put Magelang City on the first place, followed by Madiun, Bontang, Mojokerto and Salatiga. While Categ...

Memperkenalkan Sekolah Ramah Anak

Mungkin bagi sebagian banyak orang, khususnya generasi tahun 2000-an ke bawah, yang paling diingat ketika sekolah adalah betapa sekolah itu terasa ‘menakutkan’, menakutkan dalam berbagai hal yang kerap kali membuat kita malas untuk beranjak dari tempat tidur pada pagi hari untuk bersiap ke sekolah. Selalu saja ada alasan agar tak pergi kesekolah. Tidak semua orang memang, dan tidak pada semua sekolah. Tapi itulah yang penulis ingat, yakni ketika harus buru-buru ke sekolah untuk piket, karena kalau tidak akan ditampar oleh seorang guru yang killer. Sekolah yang membuat anak tertekan secara fisik baik itu karena takut pada guru, tidak nyaman dalam pembelajaran, suasana sekolah yang tidak asri, yang membuat siswa tidak nyaman boleh jadi penyebab siswa malas untuk datang ke sekolah. Lebih dikenal dengan sekolah yang tidak ramah anak. Artinya sekolah tidak mampu memberikan rasa nyaman kepada siswa sebagai warga sekolah. Belum lagi kasus pelecehan dan kekerasan yang menimpa s...

Transformasi Guru di Era Baru

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat membawa perubahan di segala aspek kehidupan. Abad di mana informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah dan cepat, perangkat-perangkat pintar yang setia menemani siapa saja dan di mana saja, abad di mana semua orang lebih sibuk dengan smartphone­ dari pada teman di sebelahnya, ini tentu banyak membawa pengaruh yang besar. Semua aspek harus berkembang dan bertransformasi menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan informasi tersebut. Misalnya sebuah Bank harus menyediakan jasa E-banking, Media massa harus membuat portal, toko-toko online, pendaftaran kuliah via online, hingga isi pulsa pun saat bisa melalui Internet. Namun ada satu hal yang masih sulit untuk mengikuti perkembangan zaman, sulit untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan informasi, sulit untuk berubah atau merubahnya. Yakni Pendidikan .             Berkembangnya teknologi dan inf...

Siswa SD tak Boleh Tinggal Kelas

Tak akan ada habis-habisnya jika membicarakan sistem pendidikan, baik yang telah diterapkan, yang sedang, maupun yang akan diterapkan. Sebab sistem pendidikan itu selamanya akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan pola perilaku siswa. Untuk itulah kemudian berbagai macam kebijakan pemerintah terkait upaya peningkatan mutu pendidikan negeri ini terus bermunculan. Mulai dari perubahan kurikulum, perubahan sistem ujian nasional, hingga yang terkini penetapan kebijakan semua siswa harus naik kelas. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini sebenarnya dikhususkan pada siswa sekolah dasar. Hal ini dimaksudkan (oleh Kemendikbud) agar siswa bisa berkembang sesuai potensinya masing-masing. Kebijakan ini, seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya, tentu menuai pro dan kontra pula. Berbagai kalangan memunculkan pertanyaan tentang seberapa efektif kah kebijakan tersebut. Lantas apakah siswa kelas I SD yang belum bisa membaca dan berhitung...

Sedetik Hijau, Seribu Klakson

Membaca tulisan Bhakti Dharma MT di Harian Ini (Harian Analisa, 17 Februari 2014) yang berjudul “Sudahkan Kita Disiplin Berlalu Lintas?” mengingatkan saya betapa berlalu lintas di kota Medan i ni terasa tidak nyaman. Betapa tidak, kemacetan dimana-mana, jalan yang ditutup karena penggalian pipa, kedisiplinan pengendara yang tidak memperdulikan keselamatan orang lain, angkutan umum yang berhenti di tengah jalan, hingga banyaknya jalan berlubang membuat kenyamanan berkendara di kota Medan kian menghilang. Padahal kondisi lalu lintas berpengaruh besar pada emosi dan mood kita baik ketika berangkat bekerja, atau pulang kerja juga bagi anak sekolah. Ketidaknyamanan yang mempengaruhi emosi itu tentu akan berdampak pula pada kualitas kerja ketika sampai di kantor misalnya. Belum lagi berbicara tentang kecelakaan lalu lintas yang disebut Bhakti Dharma sebagai ‘Mesin Pembunuh’ yang menyumbang korban yang tidak sedikit. Tentu hal-hal semacam ini bisa kita kurangi sehingga akan terc...

Wirausaha Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Badan pusat statistik pada Januari 2014 lalu menyebutkan, per September 2013 ada 28,55 juta warga miskin di negeri ini. Bertambah 480.000 orang dibandingkan Maret 2013. Angkat penggangguran mencapai 6,25 persen dari angkaran kerja.  Sementara Data dari Bank Indonesia menyebutkan jumlah wirausaha di Indonesia hanya 1,56 persen dari jumlah penduduk atau kurang dari 5 juta orang. Angka jumlah penduduk yang berwirausaha tersebut jika dibandingkan dengan angka pada negara maju atau bahkan negara tetangga saja ternyata masih minim. Padahal fakta menunjukkan bahwa negara dengan jumlah pengusaha yang besar berbanding lurus dengan kesejahteraan negara tersebut. Betapa tidak, semakin banyak warga yang berwirausaha maka akan semakin sedikit kebutuhan akan lapangan pekerjaan, dan bahkan semakin banyak pula yang menyediakan lapangan perkerjaan. Berbanding terbalik. Persentasi jumlah penduduk dan jumlah penduduk yang berwirausaha di Indonesia sendiri masih belum mumpuni untuk disebu...

Banjir Bukan Lelucon

Banjir yang melanda Ibukota Jakarta dan Manado kemarin menjadi berita yang dikonsumsi oleh seluruh dunia. Betapa mirisnya menyaksikan rangkaian video yang disiarkan oleh berita-berita dari stasiun TV swasta yang menampilkan ganasnya alam ketika sedang marah. Ibu kota negara kita seperti ditampilkan dalam video, lumpuh, direndam air. Belum lagi menyaksikan beberapa orang yang berjuang melawan banjir untuk proses evakuasi, serta yang ingin tetap bertahan di rumahnya karena takut barang-barang berharga dijarah oleh orang tak bertanggung jawab. Bencana banjir di Jakarta dan Manado setidaknya sudah memakan korban jiwa. Belum cukup sampai di situ, masalah tentu akan berdatangan lagi, mengingat ratusan warga Jakarta yang tengah mengungsi menghindari banjir tentu harus mengalami berbagai hambatan seperti kurangnya bahan makanan dan selimut. Aktifitas warga benar-benar lumpuh karena banyaknya jalan yang tidak bisa dilalui. Beberapa Moda Transportasi pun terpaksa harus berhenti tida...

Tayangan TV : Antara Pendidikan dan “Hiburan”

Jenuh. Mungkin itulah yang dirasakan sebagian masyarakat, termasuk penulis sendiri, setiap menatap layar televisi khususnya akhir-akhir ini. Betapa tidak, hari-hari dan bahkan pada saat bersantai televisi yang senantiasa menemani kita, belakangan ini menyuguhkan tayangan yang ‘kosong’. Bahkan di jam-jam Prime Time , yaitu saat di mana masyarakat paling banyak menyalakan televisi—antara pukul 18.30 – 22.00—hampir seluruh stasiun televisi menyuguhkan tayangan yang tidak mendidik dan jauh dari unsur inspiratif. Kejenuhan semakin memuncak ketika beberapa tayangan yang inspiratif (menurut penulis paling tidak) terpaksa dipindah tayangkan karena ‘kalah saing’ dengan tayangan yang hanya memprioritaskan haha-hihi belaka. Tidak sedikit pula tayangan inspriratif dan mendidik ditutup karena rating yang terus menurun. Belakangan ini, publik khususnya warga media sosial twitter ramai berkicau tentang tayangan televisi yang kini dianggap sudah benar-benar bablas . Bablas dalam artian t...

Vonis PISA untuk Siapa?

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Students Assessment (PISA) baru baru ini merilis hasil pemeringkatan kemampuan siswa dari berbagai negara,  penilaian siswa internasional tersebut mengukur siswa dari kemampuan siswa yang berusia 15 tahun dalam matematika, sains, dan membaca serta dalam mengimplementasikan pengetauan yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia nyata. Pada tahun ini, program ini diikuti oleh 65 negara, dan hasilnya sangat mengejutkan. Bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 64, setingkat di atas Peru yang menjadi juru kunci penilaian siswa internasional tersebut. Betapa mengejutkan “vonis” PISA untuk siswa Indonesia ini, sebab dari 65 negara, kita berada pada posisi kedua paling akhir. Melansir berita Okezone.com, penilaian ini terbagi dalam 3 literasi, yakni literasi Matematika, literasi Sains, dan literasi membaca. Ketiganya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan d...

Dilema “Prestasi” PISA

Hasil Programme for International Students’ Assessment (PISA) 2012 yang dirilis Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) beberapa waktu lalu menunjukkan kita sebuah fakta bahwa peringkat penilaian siswa-siswa kita berada pada urutan ke-2 dari bawah (ke-64 dari 65 negara yang ikut serta). Hal ini seperti cambuk yang menyayat dunia pendidikan kita, mengingat bahwa kita tertinggal jauh dari negara-negara tetangga se ASEAN. Singapura sendiri menduduki peringkat ke-2 terbaik di bawah China. Namun ada satu hal yang juga patut diperhitungkan, boleh dibilang kabar gembira, sebab siswa-siswa Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal kebahagiaan. Anak-anak Indonesia merasa paling bahagia berada di sekolah mereka, diikuti Albania, Peru dan Thailand. Sedang yang paling tidak bahagia ditempati Korea selatan. Kedua penilaian ini pun menjadi perbincangan, di satu sisi kebahagian siswa di sekolah menunjukkan adanya perubahan pendidikan Indonesia dari tahun-tahun...

Ketika Listrik harus Impor

Saya tercengang begitu membaca berita yang dimuat Harian Kompas edisi 11 November 2013 lalu, dengan judul “Indonesia Impor Listrik” yang dicetak dengan ukuran huruf judul yang besar, seketika mata saya tertuju pada berita tersebut. Entah itu tergolong berita baik atau buruk, tapi rasanya berita tersebut menyayat hati. Sungguh ironi Negara sebesar Indonesia, dengan sumber daya alamnya yang melimpah ini, yang diakui oleh seluruh dunia pula harus mengimpor pasokan listrik dari Negara tetangga, Malaysia. Di satu sisi, kita khususnya warga Sumatera Utara yang merasakan langsung krisis listrik seperti merasakan angin segar bahwa pasokan listrik akan segera aman tapi di sisi lain hal ini menunjukkan betapa Negara kita ini terlalu lemah sampai-sampai segala sesuatunya tidak bisa dihasilkan sendiri dan untuk dipakai sendiri. Menghadapi kurangnya daya listrik khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan belakangan ini, PT PLN Persero berupaya untuk menambah pasokan energi listrik me...